Friday, August 21, 2009

Dialog Tubuh dan Hati

Suatu hari tubuh bertanya pada hati, "Jika aku sakit dokterlah yang akan menyembuhkan. Tapi jika kau yang sakit siapa yang akan menyembuhkan?"

Hati pun menjawab, "Aku akan sembuh dengan sendirinya.."

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengobati luka hatinya. Bermain, belanja, tertawa, bercerita dengan teman... Cara yang terburuk adalah dengan menghindari luka itu.

Dan di sini aku menulis. Mencoba memuntahkan isi kepala untuk bisa sedikit mengobati luka hatiku. Entah apa lagi yang akan ku lakukan esok.. Hingga semua luka itu sirna.

Wednesday, June 17, 2009

Agar Semua Beban Terasa Ringan

Banyak yang mengira dirinya telah mengumpulkan setumpuk kebaikan dengan amalannya, padahal bisa jadi ia tak mendapatkan apa-apa lantaran kesalahan niatnya. Bahkan, niscaya ia justru dirundung dosa yang menyertai sikapnya yang riya', ujub, bangga, sombong dan semacamnya.

Selain amalannya sia-sia, secara psikologis ia juga menanggung beban tak terkira lantaran hati, jiwa dan jasadnya yang telah mengejar fatamorgana kemuliaan yang nyatanya kehinaan belaka. Dan setiap kewajiban pun menjadi beban yang beratnya tak tertanggungkan.

Karena itulah ikhlas adalah kunci lapangnya hati dan keperkasaan jiwa dalam menghadapi apapun kewajiban dan tugas kehidupan. Dengan ikhlas, semua beban akan terasa ringan.

(diambil dari cover belakang buku 'Agar Semua Beban Terasa Ringan' karya Syaikh Sholih Al-Fauzan)

Monday, June 8, 2009

Kemungkinan dan Kepastian

Mungkin aku mencintainya, tapi pastinya aku lebih mencintai Alloh dan Rosul-Nya....

Mungkin aku cemburu karenanya, tapi pastinya aku lebih cemburu karena perintah-Nya yang dilanggar dan larangan-Nya yang tak diindahkan....

Mungkin aku ingin dia menyayangiku, tapi pastinya aku lebih ingin Dia yang menyayangiku....

Ya Alloh... tetapkanlah hatiku dalam agamamu...

Kata Mutiara Ibnul Qoyyim

- Bagaimana bisa disebut sebagai seorang yang berakal, jika dia menjual surga demi kenikmatan sesaat?

- Berbelanjalah saat ini karena pasar masih dibuka, harga-harga masih ada, barang-barang masih murah. Akan datang suatu masa, ketika pasar tidak sampai pada tingkatan sedikit dan banyak.

Alloh berfirman,
"....Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan...." (QS At-Thaghobun : 9)

Alloh juga berfirman,
"....Pada hari itu orang-orang yang zalim saling menggigit jarinya..." (QS Al-Furqon : 27)

- Kadar harga jual beli sebuah barang bisa diketahui dari siapakah pembelinya, harga yang berani dibayarnya, dan siapakah yang menyerunya. Jika yang membeli adalah Zat Yang Maha Agung, maka harganya tinggi dan seruannya adalah mulia, berarti barang dagangan itu sangatlah berharga.

- Mari mendekat dan berdampingan dengan Alloh di surga dengan tanpa lelah, letih dan kepayahan. Lewatlah jalan yang paling dekat dan mudah. Karena engkau berada pada satu waktu di antara dua waktu. Hal tersebut sebenarnya adalah umurmu. Usiamu di antara waktumu yang akan datang dan yang telah berlalu. Engkau merenungkan waktu yang telah berlalu dengan penuh tobat, penyesalan dan meminta ampunan kepada Alloh. Amalan ini merupakan amalan hati. Sedangkan usiamu yang akan datang engkau sambut dengan berazam serta berniat dengan jujur untuk menahan diri dari perbuatan dosa.

- Harga dunia tidaklah sepadan dengan perjuanganmu untuk mendapatkannya, tapi mengapa engkau terus mengejarnya?

-Engkau memasuki rumah yang penuh dengan hawa nafsu, kemudian engkau mempertaruhkan usiamu.

(dari Kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qoyyim)




Monday, May 11, 2009

Di Sebuah Gang Kecil

Suatu sore dalam perjalanan sepulang mengajar, aku mendengar seorang wanita yang keluar dari sebuah gang kecil berbicara kepada temannya dengan nada marah. "Meuni dek ngaliwat oge kudu nungguan urang ngaliwat heula emangna urang teh naon." (Mau lewat aja harus nunggu kita lewat dulu emang kita ini apaan)

Kata-kata itu ditujukan kepada dua orang ikhwan yang menunggu wanita tersebut dan teman-temannya berlalu dari gang.

Gang tersebut memang kecil, maka bagiku tak mengherankan ikhwan-ikhwan itu berbuat demikian. Aku perkirakan bahwa mereka khawatir jika mereka tidak sengaja bersentuhan dengan wanita-wanita itu. Tapi tidak bagi wanita itu. Wanita itu malah merasa direndahkan oleh perlakuan tersebut.

Aku memang tidak dapat memastikan bahwa wanita tersebut adalah seorang muslimah karena tidak tercermin dari penampilannya. Tapi jika dia benar-benar muslimah sungguh apa yang dipikirkan oleh wanita itu membuatku miris. Orang Islam tidak mengenal aturan agamanya sendiri. Dia tak mengerti bahwa pria dan wanita yang bukan mahrom haram untuk bersentuhan. Memang jika tak sengaja bisa dimaafkan, tapi lebih baik menhindari ketidaksengajaan seperti apa yang dilakukan oleh kedua ikhwan itu yang memilih untuk menunggu wanita-wanita itu keluar dari gang.

Kita Perlu Malu

Seorang teman yang dulu ku jadikan contoh bagiku kini penampilannya berubah terutama caranya berkerudung. Dia terlihat lebih cantik dan menarik dengan cara berkerudungnya yang mengikuti trend masa kini. Hanya saja kerudungnya itu terlihat lebih pendek dan sedikit mempelihatkan lekukan anggota tubuh wanitanya. Memang dia masih menutup aurat, tapi menurutku hal itu adalah suatu kemunduran.

Sementara itu seorang teman yang lain memintaku untuk memesankan kerudung untuknya kepada penjual kerudung langgananku. Dia menginginkan panjang kerudungnya minimal sepanjang kerudung yang biasa dia pakai. Dia setuju dengan kata-kataku bahwa jika kita terbiasa dengan panjang kerudung tertentu maka kita akan merasa malu untuk memakai kerudung yang lebih pendek.

Setelah obrolan tentang kerudung yang akan dipesan tersebut, aku jadi teringat akan temanku yang pertama. Mungkinkah rasa malu pada dirinya sudah berkurang?
Malu itu memang diperlukan agar kita bisa tetap istiqomah dalam menjalankan syari'at agama. Malu itu dapat mencegah kita untuk melakukan kemaksiatan.

Dalam catatan ngajiku ku temukan tulisan bahwa sebagian ulama berkata, "Malu adalah menahan jiwa karena takut mengerjakan sesuatu yang tercela. Hal ini bersifat umum baik dalam perkara syar'i, akal maupun adat."

Malu seperti inilah yang diperlukan. Bukan hanya rasa malu kepada sesama manusia tetapi juga kepada Alloh.

Monday, April 13, 2009

Introspeksi Diri dari Dosa

"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Alloh sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Anfaal : 53)

Di dalam Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir oleh Muhammad Nasib Ar-Rifa'i tertulis keterangan tentang ayat ini : " Alloh Ta'ala memberitahukan keseimbangan-Nya yang sempurna dan keadilan-Nya dalam hukum-Nya; bahwasanya Dia tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada seseorang melainkan karena dosa yang dilakukannya."

Jika bahagia berganti duka sebagai tanda bahwa kenikmatan kita telah diangkat oleh-Nya, selayaknyalah kita sebagai seorang yang beriman melirik sejenak ke belakang untuk mengingat kembali perbuatan apa yang telah kita lakukan yang berpotensi untuk menjadi penyebab Alloh mengubah nikmat tersebut. Jika memang kita telah berbuat dosa, sepatutnya kita mensyukuri perlakuan-Nya kepada kita karena barangkali Dia mengubah nikmat tersebut untuk memberikan kita peringatan dan menghentikan kita dari dosa tersebut. Itu artinya Dia masih menghendaki kebaikan dari kita.

Akupun tengah mencoba untuk demikian. Ya Alloh berilah aku kekuatan...